Tumbuh Bersama, Nina
Kisah tentang Nina yang mengajarkanku bahwa bimbingan bukan soal memperbaiki, tapi tentang memahami, menemani proses runtuh, butuh dan tumbuh bersama.
Hai, saya Ersa. Saya tidak hanya seorang calon Guru BK di Sekolah, saya adalah teman tumbuh,
Dulu saya pikir, tugas saya di ruang kelas adalah memberikan materi, menyelesaikan RPL, dan memastikan semua siswa "baik-baiik saja". Sampai pada suatu hari, ada seorang siswa yang murung dan duduk memisahkan diri dengan teman-temannya ia tidak merespon apapun secara verbal. Saya sudah mencoba bertanya, tapi dia diam. Di hari yang sama, ada laporan kasus bullying .
di kelas lain.
Pada saat itu juga saya runtuh.
Saya sadar yang mereka butuhkan bukan ceramah tentang benar dan salah melainkan yang merekea butuhkan adalah ruang aman untuk runtuh, butuh dan tumbuh. Sejak saat itu, cara saya dalam memberikan layanan berubah. Ruang kelas bukan lagi tempat saya mengajar, akan tetapi tempat kami sama-sama belajar. Kami belajar bahwa merespon tidak harus selalu dengan kata-kata, terkadang cukup dengan hadir, gestur atau tulisan kecil di kertas. Kami belajar bahwa untuk mencegah bulyying, kami tidak butuh penghukum, tapi butuh kemampuam umutk berkolaborasi dan berkomunikasi dengan empati.

Berkaitan dengan hal yang kami pelajari dalam ruang kelas bukan hanya sekedar materi, melainkan bentuk harapan pada pemahaman baru. Proses yang dijalani memang beragam dan dari keberagaman yang ada, kami belajar untuk menumbuhkan respect antar satu dengan yang lainnya karena pada akhirnya saya tidak hanya mengajar mereka., teapi mereka lah yang mengajari saya cara untuk tumbuh.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.